2
Rumah panggung itu hanya milik Tuangi lipu’, yaitu golongan masyarakat di bawah bangsawan, yang berdagang namun tertata apik. Di halamannya yang luas ditanam berbagai aneka bunga, jalan masuk telah diperkeras dengan kerikil. Warung kecil di depan rumah dibuat sedemikian rupa sehingga menyedapkan mata. Warung itu seperti dapurnya rumah panggung namun lebih indah daripada dapur. Rumah panggung dicat dengan warna kayu, alami namun mengkilap. Gudang kopra sengaja diletakan di belakang rumah agar tak merusak pemandangan.
Hasan dan Hasnah, suami-isteri pemilik rumah, tak bisa lagi memikirkan semua itu. Sebagai pedagang mereka cukup sibuk melayani pembeli, membeli hasil bumi dan memasarkannya. Bulan, anak mereka satu-satunya yang membuat suasana rumah menjadi nyaman seperti itu.
