Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Pengorbanan Sang Petani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengorbanan Sang Petani. Tampilkan semua postingan

Bulan



2

Rumah panggung itu hanya milik Tuangi lipu’, yaitu golongan masyarakat di bawah bangsawan, yang berdagang namun tertata apik. Di halamannya yang luas ditanam berbagai aneka bunga, jalan masuk telah diperkeras dengan kerikil. Warung kecil di depan rumah dibuat sedemikian rupa sehingga menyedapkan mata. Warung itu seperti dapurnya rumah panggung namun lebih indah daripada dapur. Rumah panggung dicat dengan warna kayu, alami namun mengkilap. Gudang kopra sengaja diletakan di belakang rumah agar tak merusak pemandangan.
Hasan dan Hasnah, suami-isteri pemilik rumah, tak bisa lagi memikirkan semua itu. Sebagai pedagang mereka cukup sibuk melayani pembeli, membeli hasil bumi dan memasarkannya. Bulan, anak mereka satu-satunya yang membuat suasana rumah menjadi nyaman seperti itu.

1. Pencari Kedamaian




Is..kzh…kzh…huraaa…
Muna riang luar biasa. Sepasang sapi penarik garu yang dia naiki bergerak cepat seakan lumpur tak masalah baginya. Dan Karena sapi tak mempermasalahkan lumpur maka Muna berusaha untuk tidak mempermasalahkannya juga. Celana gombrong hitam yang dia pakai telah penuh lumpur. Muna ingat perdebatannya dengan Tolutuy tadi pagi.
“Bawalah baju ganti, Abo’[i]. Beda dengan kemarin. Saat membajak. Hari ini sawah akan diairi. Lumpurnya kental. Pakaianmu akan kotor nanti,” kata Tolutuy.
“Mengapa takut kotor? Kita ke kebun, kan?!” sambut Muna, dia menggeleng heran.